Kamis, 29 Maret 2012

BIOGRAFI KH.ABDUL GHOFUR


KH.ABDUL GHOFUR
Pendiri PP.Mamba’aul Hikam Mantenan Udanawu Blitar

Pondok Pesantren Mamba’ul Hikam yang pada saat ini masih kokoh berdiri megah di kawasan Mantenan Udanawu Blitar Jatim, merupakan sebuah arsip sejarah dan jikalau kita kilas balik pasti akan menemukan tokoh sentral, pejuang sekaligus penyebar agama islam di Daerah Blitar dan sekitarnya, dia adalah KH. Abdul Ghofur Pendiri Pon.Pes.Mamba’ul Hikam Mantenan Udanawu Blitar Jatim. Abdul Ghofur berasal dari Brongkah Kecamatan pogalan Kab.Trenggalek merupakan putra dari pasangan Kyai Muhyidin dan Nyai Sholihah. Banyak sekali karomah-karomah yang muncul ketika be;liau masih kecil yang merupakan bahwa kelak ia akan menjadi tokoh besar. Pernah pada suatu hari kakek Beliau ( Kyai Asnawi ) menggelar suatu sayembara yang hanya boleh diikuti oleh kalangan keluarga saja , yaitu barang siapa yang mampu meminum dan menghabiskan air dalam bumbung (gelas dari bambu) maka kelak ia akan mewarisi ilmu sang kakek. Namun tak satupun peserta yang mampu menghabiskan air tersebut kecuali beliau, padahal waktu itu beliau masih dalam ayunan Ibunda. Melihat kejadian itu, spontan sang kakek menangis dan membelai bocah tadi ( Abdul Ghofur).

Pernah ada lagi kejadian yang menakjubkan ketika masih kanak-kanak, suatu saat beliau diajak sang Bunda derep ( menuai padi ) dan ketika berada ditengah-tengah sawah beliau dengan riangnya  bermain seorang diri sambil melempar-lempar damen (tangkai padi) ke udara dan sangatlah ajaib karena setiap damen yang beliau lempar bisa menjadi seekor burung.

Menginjak usia muda, beliau mulai mencoba berkelana memperdalam ilmu sekaligus memperluas pengalaman ke berbagai pesantren. Awal kali beliau hijrah dan belajar di Pesantren Mangunsari Nganjuk. Setelah beberapa tahun di sana, beliau melanjutkan mondok yang juda masih di kawasan kab. Nganjuk. Dan yang terakhir beliau menyepuh ilmunya di Pesantren Mbalong Kediri. Di sana Beliau terkenal sebagai pemuda yang ulet dan cerdas karena mampu menguasai berbagai ilmu pengetahuan yang sempurna. Setelah dirasa cukup mengaji di Pesantren Mbalong, KH.Abdul Ghofur kemudian pulang dan ikut kedua orang tuanya hijrah sekaligus berjuang (da’wah) didaerah ngampel Kediri. Disinilah orang Tua Beliau menetap yang kemudian mendirikan Masjid untuk berda’wah.

Menginjak usia Dewasa, beliaupun mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi Nyai Musri’ah, Putri sulung Haji Munajat pemilik tanah Mantenan dan tidak lama kemudian beliau menunaikan Ibadah Haji ke tanah Suci Makah dan setelah itu Beliau menetap di Mantenan.

Melihat kondisi sosial Dusun Mantenan yang sangat memprihatinkan, sebagai tokoh yang mempunyai intlektualitas islami yang tinggi, beliau termotifasi untuk mebenahi kondisi tersebut. Langkah awal yang di ambil adalah dengan mendirikan sebuah Musholla pada tahun 1907 M, sebagai tempat untuk berda’wah. Selain itu, beliau juga mengembangkan misi da’wahnya dengan cara “door to door” dari rumah ke rumah penduduk.

Ditengah-tengah perjuangannya, beliau harus menerima keyataan duka, karena Istri tercinta Nyai Musri’ah lebih dahulu dipanggil yang Kuasa dan mewariskan lima orang putra, dua diantaranya meninggal dunia dan ketiga putranya yang masih hidup yaitu, Nyai Mursyidah, KH.Bahar dan Nyai Marwiyah.

Kemudian beliau ngrengkulu (menikahi adik ipar ) nyai Musri’ah, bernama nyai Siti. Ada kejdian lucu dimasa pernikahannya dengan Nyai Siti. Pada suatu hari dimalam pengantinnya, istrinya tidak mau mendekat ( tidak atut), karena ketidakmauan sang istri tadi, maka KH.Abdul Ghofur memukul bantal yang ada disampingnya, seketika itu pula bantal tersebut berubah menjadi seekor harimau yang meraung-raung, spontan sang Istri ketakutan dan langsung memeluk beliau. Itulah sebagian karomah yang dimilikinya sebagai tanda bahwa beliau bukan orang biasa.

Buah pernikahannya dengan Nyai Siti, beliau dikaruniai lima Orang anak. Yaitu :
  1.  KH. Mirza Sulaiman Zuhdi
  2.  KH.Zubaidi Abd. Ghofur
  3.  Nyai Sringatin
  4.  Agus Zainuri
  5.  Agus Kased.

Kemudian seperti halnya Nyai Musri’ah, Nyai Siti pun Pulang ke Rahmatullah terlebih dahulu meninggalkan beliau. Selang beberapa bulan kemudian, KH.Abdul Ghofur menikah lagi dengan Nyai Fathonah (Pelas Kediri) dan dikaruniai dua orang anak bernama Kyai Abdullah dan Nyai Sa’diyah.

Memang harus kita akui, bahwa beliau merupakan penancap tongkat sejarah berdirinya Pondok Pesantren Mamba’ul Hikam dan Pesantren ini merupakan bukti jerih payah beliau dalam berjuang menyebarkan agama islam di kawasan Blitar dan sekitarnya pada waktu itu.

KH.Abdul Ghofur wafat pada tahun 1952 M, dan disemayamkan tepat dibelakang Masjid Mamba’ul Hikam. Sampai sekarang jasanya masih dikenang. Harumnya nama tokoh seperti beliau menyebabkan makamnya tidak pernah sepi dari peziarah yang bukan hanyadari kawasan Blitar, melainkan dari Jawa Tengah, Jawa Barat, bahkan Sumatera dan Kalimantan.

Demikian sekelumit kisah beliau KH.Abdul Ghofur beserta sebagian kecil kelebihan yang dimilikinya. Dan kegigihannya dalam berda’wah patut kita jadikan suri tauladan sebagai modal untuk meneruskan perjuangan beliau dalam mengemban misi da’wah islam. Dan sebagai bukti rasa cinta dan terima kasih yang tak terhingga, kita haturkan do’a untuk beliau. Al-Faatihah……………..    

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls